Senin, 11 Januari 2016

Misteri Sate Gagak Dan Uang Gaib

Abdul Malik (kiri), Samsudin (kanan)














Mencari uang gaib melalui media sate gagak merupakan ciri khas ilmu pesugihan Dewi Lanjar. Dikisahkan, sosok gaib Dewi Lanjar memiliki kekayaan melimpah, berupa harta emas lantakan dan tumpukan uang yang tak terhitung nilainya. Uniknya, mata uang yang dimiliki Dewi Lanjar ini mengikuti mata uang yang berlaku di alam manusia. Konon, mata uang rupiah, dollar Amerika, dollar Singapura, Ringgit Malaysia, dll, terdapat dalam tumpukan uang yang dimiliki Dewi Lanjar.
Itulah sebabnya banyak orang yang berupaya mendapatkan uang gaib tersebut. Mata uang yang diinginkan tergantung peminatnya, asalkan syarat yang diminta Dewi Lanjar dapat dipenuhi, yaitu sate gagak.
Sepintas mudah saja menyediakan sate gagak. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Itulah yang dialami Samsudin (48 tahun).
“Pengalaman yang saya alami sangat menakutkan. Bahkan dapat mengancam keselamatan jiwa. Sebaiknya jangan coba-coba mengikutinya,” kenang Samsudin yang menetap di Kampung Pekalipan, Cirebon.
“Bagaimana kisah itu terjadi?” Tanya Misteri.
“Awalnya kami ingin membuktikan uang gaib. Sebenarnya saya tidak terlalu percaya. Tetapi teman saya mengatakan ada seorang kyai di Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki kemampuan mendatangkan uang gaib,” kata Samsudin.
Selanjutnya dikisahkan, Samsudin bersama delapan orang temannya menemui Kyai Dullah di Banyumas. Mereka mengutarakan niatnya mendapatkan uang gaib.
Ketika itu Kyai Dullah hanya tersenyum mendengarnya.
“Apa kalian sudah mantap dengan niat itu? Apa tidak takut dengan resiko yang dihadapi?” Tanya Kyai Dullah.
Tentu saja semuanya menjawab mantap dan siap dengan resikonya.  Niat itu sudah bulat dan tidak mungkin diubah lagi.
“Baiklah. Siapkan seekor burung gagak. Nanti kita lihat apa yang terjadi,” ujar Kyai Dullah.
Beberapa hari kemudian, Kyai Dullah bersama sembilan orang itu berangkat menuju pasar burung di Plered, Cirebon.
Nasib mereka mujur. Burung gagak berwarna hitam kelam berhasil diperoleh dengan harga 250.000 rupiah seekor.
Bahas Rencana
Pada hari yang telah ditentukan, mereka berkumpul di rumah rekan Samsudin membahas rencana semula.
“Berapa uang yang kalian inginkan?” Tanya Kyai Dullah yang memimpin acara itu.
Samsudin dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan yang mengejutkan itu.
“Lho! Kalian bagaimana? Ingin mendapatkan uang gaib tapi tidak tahu jumlahnya,” kata Kyai Dullah kesal.
“Lima belas milyar,” ujar rekan Samsudin memecah keheningan.
“Rupiah, dollar, ringgit…” Kyai Dullah menyambung cepat.
“Rupiah,” serentak jawaban keluar dari sembilan orang yang sedang bermimpi menjadi kaya tanpa susah payah.
“Baiklah. Burung gagak itu kalian potong dan siapkan 15 tusuk sate. Lalu siapa yang akan berjualan sate gagaknya?” Tanya Kyai Dullah.
Samsudin dan temannya hanya terbengong mendengar pertanyaan itu.
“Apa maksud Kyai?”
“Salah seorang diantara kalian bertugas menjual 15 tusuk sate gagak. Apabila ada yang datang membeli, jangan berikan sate itu sebelum sang pembeli membayar 1 milyar untuk satu tusuk sate,” Kyai Dullah menjelaskan.
“Siapapun yang berjualan harus memastikan pembeli menyediakan uang sebanyak yang kalian inginkan. Kalian juga harus membawa selembar uang seratus ribu sebagai contoh. Katakan pada pembeli agar menyediakan uang seperti uang yang kalian bawa itu,” lanjut Kyai Dullah.
Kesembilan orang itu tersenyum mendengar penuturan Kyai Dullah. Tampaknya tidak terlalu sulit mendapatkan uang bermilyar-milyar rupiah. Tetapi mereka serentak diam, ketika Kyai Dullah bertanya siapa yang akan bertugas menjadi penjual sate gagak.
Terjadilah perdebatan. Mereka saling tunjuk siapa yang akan menjadi penjual. Setelah disepakati, Samsudin dipilih mengambil tugas itu.
Kyai Dullah lalu memanggil Samsudin untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan saat berjualan.
“Kamu harus berani dan jangan gentar. Ingat, dalam dunia gaib, justru penjual yang menjadi raja dan bukan pembeli,” nasihat Kyai Dullah.
Memang terdengar aneh. Bisnis manusia jelas mengatakan pembeli adalah raja. Sementara di alam gaib sebaliknya, penjual adalah raja.
Jualan Sate Gagak
Pada malam Jumat, sekitar pukul 21.00 malam, menggunakan mobil mereka menuju tempat yang dipilih berjualan sate. Lokasinya di muara sungai Kalijaga, persis di tepi laut.
Seorang diri Samsudin berjalan ke arah lokasi tersebut sambil membawa 15 tusuk sate gagak dan peralatan untuk membakar sate. Lokasi tersebut dipenuhi pepohonan lebat dan alang-alang. Sambil berjalan, Samsudin harus membabat alang-alang dengan sebilah parang. Sekitar 1 meter dari tepi laut, Samsudin membersihkan tempat yang akan digunakan berjualan. Setelah itu dia mulai membakar satu persatu sate yang dipersiapkan.
Sementara itu, posisi Kyai Dullah dan teman-temannya berada  di dekat mobil yang berjarak sekitar 500 meter dari Samsudin. Kyai Dullah melakukan ritual dekat mobil tersebut.
Tepat jam 22.00 malam, 15 tusuk sate yang dibakar sudah matang dan siap dijual. Aroma daging terbakar menyeruak ke segala arah.
Sebagaimana petunjuk Kyai Dullah, Samsudin berteriak-teriak seolah memanggil pembeli.
“Sate gagak….sate gagak. Siapa mau beli,” teriak Samsudin sambil mengacung-acungkan satenya.
Tampaknya belum ada yang datang membeli. Samsudin mulai didera rasa takut. Suasana malam terasa mencekam. Debur ombak dan desiran angin mendirikan bulu roma. Pada saat itu, Samsudin membaca doa-doa dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Samsudin tersentak kaget mendengar suara petir yang keras. Kilatan petir bahkan berjarak beberapa meter dari tempatnya duduk.
“Astaghfirullah,” teriak Samsudin dalam batin. Kilatan petir terasa menyambar kepala, hingga secara refleks menunduk menghindarinya.
Belum hilang rasa kaget mendengar petir, tiba-tiba seekor burung hantu terbang berputar-putar. Samsudin yang tangan kanannya masih memegang sate gagak langsung saja mengacung-acungkan tangannya sambil berteriak. Sementara tangan kirinya memegang selembar uang seratus ribu rupiah.
“Sate gagak… sate gagak…siapa mau beli,” teriak Samsudin dengan suara parau.
Burung hantu itu hinggap pada sebatang pohon sekitar 10 meter darinya. Matanya menatap tajam. Samsudin balas menatapnya sambil terus berteriak-teriak menawarkan sate gagak.
Burung hantu itu lalu turun di tanah dan mulai berjalan mendekat. Tetapi tiba-tiba saja burung itu terlempar menjauh sambil mengeluarkan suara keras.
Samsudin terkejut melihat kejadian itu. Tapi dia tidak mengerti apa yang terjadi.
Sambil membakar sate gagak agar aroma daging tetap menyebar, Samsudin terus berteriak-teriak memanggil pembeli.
“Sate gagak….sate gagak…sate gagak. Siapa mau beli,” teriak Samsudin.
Entah darimana datangnya, Samsudin tersentak melihat sosok gaib berujud manusia setengah badan muncul dari semak-semak belukar.
Sosok gaib itu hanya terlihat dari dada ke atas. Bagian perut dan kakinya tidak ada. Sosok gaib itu berambut gondrong, berwajah seram dan mata merah menyala. Seperti melayang, sosok itu mendekati Samsudin.
Anehnya, sosok itu berhenti 10 meter di depan Samsudin. Makhluk dari bangsa jin itu menatap tajam dengan mulut seolah sedang berbicara.
“Sate gagak…sate gagak….sate gagak. Ayo beli sate gagak. Murah…satu milyar untuk satu tusuk sate gagak,” kata Samsudin berteriak sambil mengacungkan sate gagak di tangan kanan dan uang seratus ribu di tangan kiri. Samsudin berharap makhluk gaib itu datang mendekatinya dan membeli sate gagak.
Sebagaimana petunjuk Kyai Dullah, Samsudin harus menunjukkan sate gagak itu kepada pembeli. Apabila sang pembeli berminat, maka Samsudin harus pula menyodorkan uang seratus ribu rupiah untuk pembayarannya.
Tetapi Samsudin heran melihat sosok setengah badan itu tidak juga mendekat. Padahal ekspresi wajah gaib itu terlihat berminat membeli sate.
Samsudin tidak menyerah. Dia terus berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Agaknya pancingan ini berhasil, sosok gaib itu bergerak mendekatinya.
Tiba-tiba sosok gaib itu mengeluarkan suara lengkingan keras disertai kobaran api. Sosok gaib itu terbakar dan kemudian lenyap.
“Astaghfirullah,” teriak Samsudin dalam batin.  Dia heran mengapa makhluk itu terbakar.
Buaya Putih
Tetapi Samsudin tetap bertahan. Keinginannya mendapatkan uang gaib sudah bulat. Apapun yang terjadi. Samsudin memang kesal dengan teman-temannya yang memilihnya berjualan sate. Sementara mereka asyik duduk di mobil menunggu perkembangan. Pada saat itu Samsudin tidak menyadari rekan-rekannya di dalam mobil lari kocar-kacir akibat mobil tersebut diguncang-guncang keras sejumlah sosok gaib hingga terperosok ke dalam parit. Bahkan Kyai Dullah pun lari ketakutan.
Sekitar pukul 02.00 pagi, Samsudin melihat pemandangan aneh. Dua buah perahu melaju pelan dari arah muara sungai Kalijaga. Semakin lama perahu itu mendekati posisi duduknya yang hanya berjarak 1 meter dari tepi laut.
Samsudin mengamati kedua perahu itu. Aneh, tidak ada seorang pun di dalam perahu. Tetapi Samsudin dengan sangat jelas melihat beberapa tumpukan karung di dalam perahu.
“Apa isi karung-karung itu? Pikir Samsudin. Setelah Samsudin menghitung, ternyata jumlah karung itu ada 15.
“Apakah karung-karung itu berisi uang 15 milyar? Tetapi mengapa perahu itu terus berjalan dan tidak berhenti?” Tanya Samsudin dalam hati.
Kedua perahu itu berjalan di muara sungai dan menuju laut lepas. Deburan ombak seketika melenyapkan perahu itu.
Samsudin mulai pesimis sate gagak yang dijualnya akan laku. Tetapi dia belum mau beranjak pulang sebelum kedatangan sosok gaib Dewi Lanjar. Dia masih menunggu putri dari bangsa jin yang sangat kaya itu.
Menjelang pukul 03.00 pagi, Samsudin dikejutkan kedatangan seekor buaya putih berukuran raksasa. Lebar badan buaya itu sekitar 2 meter, dengan panjang hampir 15 meter.
Buaya berbadan besar itu muncul dari dalam sungai dan berjalan terseok-seok mendekatinya.
“Sate gagak…sate gagak. Ayo beli sate gagak,” teriak Samsudin sambil menatap ke arah buaya yang berjarak sekitar 10 meter. Kali ini, tubuh Samsudin gemetar. Dia khawatir buaya itu akan memangsa dirinya dan bukan sate gagak yang dipegangnya.
Lagi-lagi kejadian yang sama terulang. Buaya yang mendekatinya itu terlempar jauh ke belakang. Tubuhnya melayang dan terhempas di permukaan sungai. Suaranya keras menggelegar.
“Astaghfirullah,”teriak Samsudin.
Beberapa saat kemudian, muncul lagi buaya besar dan berjalan mendekatinya. Tetapi buaya itu kembali terhempas di permukaan sungai.
Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi kejadian aneh yang dialami hingga fajar menyingsing.
Samsudin berkemas meninggalkan lokasi berjualan dan berjalan menuju temannya menunggu di mobil.
Dia heran melihat teman-temannya sibuk mendorong mobil yang terperosok di parit.
“Apa yang terjadi?” Tanya Samsudin.
Seorang temannya mengatakan, mobil itu diguncang-guncang sosok tak kasat mata hingga terperosok di parit. Beruntung tidak terlalu membahayakan. Mobil pun dikeluarkan dari parit hingga mereka dapat pulang.
Dalam perjalanan pulang, Kyai Dullah bertanya kepada Samsudin seputar pengalaman yang dialami.
Setelah mendengar cerita Samsudin, Kyai Dullah tersenyum.
“Tentu saja sate gagak itu tidak laku. Sepanjang berjualan kamu terus melantunkan zikir di dalam hati. Dewi Lanjar takut dan tidak berani mendekat,” kata Kyai Dullah yang mengaku baru pertama kali ini gagal mendatangkan uang gaib.
Menutup kisahnya kepada Misteri, Samsudin berkata,
“Ini pelajaran buat saya bahwa mendatangkan uang gaib itu perbuatan batil. Buktinya makhluk gaib itu takut dengan bacaan zikrullah.”

Misteri Kutukan Siluman Ular Hutan Jati Kramangan

Kisah ini adalah pengalaman gaib nyata dari Sarwanti. Semasa di SMA dia tersesat di hutan Jati Kalibalang. Sembilan temannya mati karena makan daging ular siluman. Dia sendiri selamat, namun harus menjalani kutukan…
SARWANTI adalah gadis kampung di desa kecil di wilayah Palas, Lampung Selatan. Tinggi gadis berkulit kuning langsat ini 160 cm, berwajah manis, dengan rambut ikal sebatas bahu. Sarwanti merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. 
Marsono, ayah Sarwanti, hanyalah seorang petani kecil, sedangkan Sudarmi, ibunya, hanyalah seorang pedagang pakaian bekas di pasar Warangan, pasar paling besar di daerah Palas. Jangankan memiliki mobil, rumah yang mereka tempati saja marupakan warisan dari sang nenek. Jangankan makan di restoran, makan nasi lauk ikan asin saja sudah senang sekali.
Kendati keadaan mereka pas-pasan, hidup Sarwanti bersama ke-2 orang tuanya dan saudaranya sangat tentram dan bahagia. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan, Marsono dan Sudarmi lebih mengutamakan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya. Mereka semua mendapatkan beasiswa.
Kejadian yang berhubungan dengan dunia gaib terjadi pada diri Sarwanti saat ia duduk di bangku SMA. Kala itu ada kegiatan RAIMUKA yang diadakan sekolah tingkat SMA se-Kabupaten Lampung Selatan.
RAIMUKA merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang berhubungan dengan pramuka. Ada salah satu wakil dari sekolah Sarwanti yang tidak ikut, yaitu Nurhayati. Entah mengapa Sarwanti yang ditunjuk menggantikannya.
Sebenarnya Sarwanti tidak terlalu hobi dalam pramuka, tapi karena ditunjuk sebagai pengganti mewakili sekolah, apa boleh buat ia lakukan juga.
Dalam acara RAIMUKA itu ada kegiatan Napak Tilas masuk hutan Jati Kramangan, Rejomarbun. Mungkin kurang konsentrasi saat dijelaskan kakak Pembina atau memang belum berpengalaman dalam jelajah hutan, Sarwanti bersama temannya kehilangan jejak. Team mereka terdiri dari 3 orang termasuk Sarwanti wakil dari SMA-nya, dan 7 orang lainnya dari SMA yang berbeda.
Walaupun mereka beda sekolah yang namanya tersesat dalam hutan selama 10 hari, mereka menjadi akrab dan saling menolong, kerjasama dan saling melindungi. Waktu itu Sarwanti masih duduk di bangku kelas 1. Anggota Team Napak Tilas di hutan Jati Kramangan, Rejomarbun, yang terdiri dari 10 orang itu campur antara kelas 1, 2 dan 3.
Sudah lebih dari delapan hari mereka tersesat di dalam hutan. Mereka beristirahat di dekat danau yang airnya sangat tenang dan jernih. Sementara perbekalan yang mereka bawa sudah habis dan beberapa anak kelihatan sangat lelah. Ketua team yang bernama Eko memiliki inisiatif mencari ikan di danau sekitar untuk mengisi perut agar memiliki stamina guna melanjutkan perjalanan pulang.
Sarwanti terduduk lemas di dekat pohon jati sambil melamun memandang jauh ke tengah hutan.
“Wanti, sudah sana kamu kumpul sama teman-teman yang lain,” ucap Eko pada Sarwanti. “Kamu nggak usah cemas begitu. Kita pasti bisa keluar dari hutan jati ini. Oke!” tambahnya.
“Asalkan kita kompak dan tenang, pasti bisa berpikir jernih sehingga dapat menemukan jalan keluar,” bujuk Eko pula pada anggota team lainnya.
Sarwanti memandangi wajah Eko dalam-dalam. Pemuda ganteng yang duduk dikelas 3 SMA itu mulai pasrah pada keadaan yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan langkah gontai, Sarwanti mendekati teman-temannya. Beberapa menit kemudian ia menghentikan langkah kakinya dan ia merebahkan tubuhnya di atas batu panjang persegi seukuran papan tulis di sekolah.
Tak berapa lama Eko dan Radit kembali. Mereka datang menawarkan daging landak yang sudah matang pada mereka. Eko dan Radit mengatakan bahwa mereka tak mendapatkan seekor ikan pun di Danau Jati. Terpaksa mereka mencari hewan lain untuk mengisi perut.
Semua teman-teman Sarwanti makan daging landak tersebut, sedangkan Sarwanti tampak ogah-ogahan, karena seumur hidupnya baru kali itu ia mendapati daging binatang yang memiliki bulu-bulu yang runcing, yang merupakan juga sebagai senjata pelindung dari binatang tersebut. Lagi pula bukan Sarwanti tidak mau, tapi di dalam keluarganya ada tradisi untuk tidak mudah memakan makanan yang diberikan oleh orang yang belum lama dikenal.
Meskipun Eko baik, tapi Sarwanti belum terlalu mengenalnya karena beda sekolahan dengannya. Kalaupun Sarwanti mengenalnya mungkin hanya di RAIMUKA itu.
Sampai esoknya Sarwanti juga tak makan, kecuali sekedar minum beberapa teguk air air danau yang lebih dulu direbus.
“Wanti, kamu jangan bersikap seperti itu. Kenapa kamu nggak mau makan daging landak bakar ini? Dagingnya enak kok. Lagipula kalau kamu nggak makan, nanti kamu bisa sakit!” ucap Ferdian dari SMA 1 pada Sarwanti.
“Maafkan aku, Kak. Tapi aku belum yakin daging binatang apa yang kalian makan itu!” jawab Sarwanti sekenanya.
Ajeng yang satu sekolahan dengan Sarwanti mendekatinya. Mungkin dia tak enak dengan teman-teman yang lainnya, apalagi yang beda sekolahan dengan mereka. Ajeng lalu membujuk Sarwanti agar mau makan daging landak bakar itu. Namun Sarwanti tetap pada pendiriannya. Tidak mau menyentuh makanan itu.
Singkat cerita, keesokkan harinya memasuki hari ke-10 mereka tersesat dalam hutan Jati Kramangan, tiba-tiba kompas hidup sehingga mereka dapat menemukan jalan keluar. Kurang lebih satu jam perjalanan mendadak Eko menghentikan langkah mereka.
“Teman-teman berhenti dulu!” katanya. “Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Eko lagi secara mendadak.
“Ada apa lagi, Kak. Apa kompasnya mati lagi?” tanya Ajeng sedikit cemas.
“Bukan, bukan itu!” jawab Eko agak ragu.
“Begini, sebenarnya yang kalian makan kemarin itu bukanlah daging landak, tapi daging ular cobra yang ada di dekat danau. Aku terpaksa berbohong karena aku pikir kalau aku jujur kalian nggak bakalan mau makan daging itu, sementara selaku ketua team di sini, aku sangat mengkhawatirkan kalian semua yang sudah hampir tiga hari sama sekali tidak mengisi perut,” kata Eko menjelaskan pada Sarwanti dan teman-teman.
Sesungguhnya mereka semua mau marah, namun setelah mereka pikir lebih dalam lagi ya sudahlah, semua sudah terjadi tak masalah dengan daging ular tersebut. Lagian, menurut teman-teman Sarwanti, rasanya enak juga. Di berbagai kawasan di Lampung ada tongseng ular cobra dijual bebas, toh juga tidak apa-apa.
Sebulan kemudian setelah peristiwa itu terjadi hal-hal aneh pada teman-teman Sarwanti, yang satu team masuk hutan Jati Kramangan. Ajeng meninggal dengan suhu tubuh naik drastis, sering mengigau di waktu malam.
Demikian juga dengan Eko, Radit dan Ferdian, sementara yang lainnya tak jauh berbeda keadaannya. Satu persatu dari mereka mati dengan kondisi tubuh yang amat mengerikan.
Ada yang kulitnya bersisik selama enm hari, lalu mengalami kejang-kejang baru keesokan harinya meninggal secara mengenaskan. Ada juga yang berteriak-teriak seperti orang kepanasan. Pokonya bertingkah yang aneh-aneh.
Setelah ke-9 anak meninggal, malam harinya Sarwanti mimpi didatangi ular besar hitam keemasan yang tiba-tiba saja berubah wujud menjadi laki-laki yang sangat tampan.
“Teman-temanmu harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka yang telah membunuh, menguliti, membakar, lalu memakan daging istriku, aarrrgghhh…” kata siluman ular, membuat tubuh Sarwanti menggigil hebat.
“Kamu tidak kubunuh, tapi aku mengutukmu selama 10 tahun. Dan pada malam-malam tertentu kamu harus mau menggantikan tugas istriku selama sepuluh tahun tersebut, ssssssshhhttttttt…..” tambahnya dengan mendesis.
Rupanya lelaki itu adalah suami dari Siluman Ular hutan Jati Kramangan. Sarwanti tertegun, diam dan lemas. Dan, mimpi itu sungguh menjadi kenyataan. Selama 10 tahun, disetiap tahunnya, persisnya selama 10 hari di bulan yang sama dengan bulan ketika Sarwanti dan teman-temannya tersesat di hutan Jati Kramangan, maka kulit gadis ayu tersebut mendadak bersisik seperti kulit ular.
Kadang-kadang Sarwanti juga mendesis-desis seperti seekor ular. Jadi, kurang 10 hari pasti Sarwanti mengurung diri di dalam rumahnya. Kalau pun terpaksa keluar hanya bisa pada malam hari saja, siangnya Sarwanti selalu mengompres tubuhnya dengan bongkahan es batu, karena suhu tubuh yang berubah sangat panas.
Tak diduga sebelumnya, perubahan pada kulit tubuh Sarwanti pada bulan-bulan tertentu di setiap tahunnya ternyata malah malah membawa hoki bagi diri Sarwanti, terutama dalam hal keuangan.
Setamat SMA sambil menjalani kuliah Sarwanti diterima bekerja di sebuah lembaga bahasa asing yang ternama di Bandar Lampung. Waktu senggang bisa ia gunakan untuk berbisnis kosmetika juga mengkriditkan pakaian untuk teman-teman sekampus ataupun ibu-ibu dan remaja puteri di lingkungannya. Sepertinya bisnis apapun yang ia lakukan berjalan mulus dengan kemajuan yang cukup pesat.
Setamat dari STKIP Sarwanti bersama Junia, temannya, mendirikan sebuah lembaga Bahasa Inggris, di mana Sarwanti menjabat sebagai direkturnya. Sarwanti juga mengadakan kerjasama dengan beberapa PJTKI dalam memberikan les bahasa Inggris.
Lambat laun usaha Sarwanti berkembang kian pesat, bahkan telah mampu membuka cabang di luar kota. Dalam jangka waktu sekitar 4 tahun Sarwanti sudah mampu memiliki rumah sendiri, mobil dan juga perabot rumah yang semuanya serba lux.
Di usia 30 tahun, Sarwanti sudah memiliki segalanya dan dipandang sebagai gadis kaya untuk ukuran seorang gadis di desanya. Dan tak terasa, rupanya 10 tahun Sarwanti telah menjadi isteri (gaib) siluman ular hutan Jati Kramangan.
Cuma yang menjadi problem bagi diri Sarwanti, jika ada lelaki yang naksir dan hendak menikahinya atau menjadikan Sarwanti isterinya, maka lelaki itu selalu mati sebelum pernikahan itu dilangsungkan.
Terhitung sudah ada lima orang lelaki semenjak tamat SMA, kuliah hingga memiliki usaha sendiri. Rasanya Sarwanti sudah lelah untuk berkeinginan menikah.
Awal tahun 2013 yang lalu kutukan itu telah selesai ia jalani. Kulit Sarwanti tidak lagi bersisik dan gadis yang memiliki keindahan ragawi nan memikat itu bisa leluasa keluar pada siang hari tanpa takut kulitnya terasa panas hendak melepuh seperti sebelumnya. Bukan itu saja, Sarwanti juga tidak akan lagi mendesis-desis seperti layaknya seekor ular.
Sarwanti menjadi yakin bahwa kutukan itu telah berakhir dan benar-benar hanya 10 tahun yang harus ia jalani sesuai ucapan siluman ular hutan Jati Kramangan itu.
Akhir tahun 2013 yang silam Sarwati telah menjalin hubungan serius dengan Robert McCarty, seorang pengusaha garmen asal Jerman yang telah dua tahun tinggal di Bali. Dia sangat mengagumi keindahan Indonesia, terutama Bali. Perkenalan dengan lelaki handsome asal Jerman itu terjadi karena Sarwanti sering ke Bali dalam rangka ujian Practice Conversation untuk anak-anak diri Sarwanti.
Sarwanti selalu berdoa, kalau memang lelaki itu adalah jodohnya, Tuhan pasti akan menyatukan cinta mereka. Tapi jika lelaki bule itu akan bernasib malang, yaitu meninggal seperti lima orang laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya, mungkin ini adalah bagian takdir yang harus Sarwanti jalani. Namun, gadis cantik ini berusaha yakin bahwa kini ia sudah terbebas dari kutukan siluman ular hutan Jati Kramangan tersebut. Kini semuanya ia pasrahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Misteri Ratu Jaya Dan Kereta Api 1993




Kecelakaan kereta api Ratu Jaya 1993 adalah peristiwa tabrakan hebat dua kereta api di Ratu Jaya Kota Depok pada tanggal 2 November 1993 yang merupakan kecelakaan terburuk ketiga dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia setelah terjadinya Tragedi Bintaro atau peristiwa kecelakaan kereta api di Bintaro pada 19 Oktober 1987 dan kecelakaan kereta api 146 Empu Jaya yang menabrak kereta api 153 Gaya Baru Malam Selatan pada 25 Desember 2001.

Masyarakat di sana percaya kecelakaan kereta api tersebut terjadi karena “penunggu” di tikungan maut itu lagi marah. “Penunggu” itu sering dipanggil oleh warga sebagai arwah Si Gundul yang adalah keturunan Cina pertama tinggal di wilayah Ratu Jaya. Mereka juga percaya, terjadinya kecelakaan kereta tersebut karena penghuni di pemakaman Ratu Jaya tidak senang wilayahnya dicemari oleh perbuatan kotor yang dilakukan oleh penduduk setempat. Warga Kelurahan Ratu Jaya banyak yang tidak tahu mengapa daerah mereka yang luas wilayahnya 237,89 hektare ini diberi nama Ratu Jaya. S. Mulyadi yang menjabat sebagai Lurah di sana juga kurang mengetahui asal muasal nama Ratu Jaya. Tapi Idris (77), pemuka masyarakat, menyimpan sedikit catatan sejarah tentang Ratu Jaya, termasuk kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah tersebut. Disebutkan ratusan tahun yang lampau, wilayah ini masih berupa hutan belantara. Penduduk yang tinggal di wilayah ini pun masih sangat sedikit sehingga bisa dihitung dengan jari. Suatu siang, seorang penduduk pergi mencari kayu bakar di hutan. Di tengah perjalanan, dia menemukan seorang wanita cantik yang sudah terbujur kaku. Dia langsung memberitahu hal tersebut kepada warga yang lain. Singkat cerita, jenazah wanita cantik tersebut dimakamkan oleh warga setempat. Malam harinya, ada kejadian aneh yang dialami warga di daerah itu. Mereka bermimpi menemukan selendang yang warnanya berkilauan. Namun saat mereka akan mengambilnya, selendang itu berubah wujud menjadi sosok wanita cantik yang wajahnya sama dengan wanita yang baru mereka makamkan. Wanita cantik itu mengaku salah satu putri dari kerajaan Mataram yang bernama Ningrumsari. Keesokan harinya, penduduk saling menceritakan mimpi itu. Dengan kejadian tersebut, penduduk setempat sepakat jenazah wanita cantik yang mereka makamkan itu adalah jasad putri Ningrumsari dari Kerajaan Mataram. Mereka pun menamakan daerah itu dengan Ratu Jaya. Mereka juga menemukan selendang yang dikenakan oleh sang putri yang dikubur di sana. Areal tersebut kini jadi tempat pemakaman Ratu Jaya. Letaknya
tidak jauh dari kantor Kelurahan Ratu Jaya. Luas pemakaman Ratu Jaya sekitar 3.000 meter persegi. Tempat pemakanan itu hanya untuk warga setempat (KTP dan Kartu Keluarga wilayah Ratu Jaya). Menurut Idris, wilayah Depok pada ratusan tahun yang lampau merupakan daerah perlintasan para raja baik dari kerajaan Mataram maupun Prabu Siliwangi yang akan berkunjung ke Banten maupun sebaliknya. ”Jadi Depok ini dulunya boleh dibilang sebagai tempat istirahatnya raja-raja yang akan berkunjung ke Banten dan Cirebon maupun sebaliknya. Di wilayah ini ada hutan kecil yang sekarang disebut dengan cagar alam dan ada pancuran yang kini menjadi Pancoran Mas,” ujarnya. Dikatakan, banyak warga yang datang ke pemakaman Ratu Jaya untuk minta nomor togel atau nomor porkas (waktu porkas masih ada). Hasilnya, mereka yang meminta nomor togel maupun porkas bukan mendapatkan nomor keberuntungan, tetapi justru menderita sakit perut. Sebelum terjadi tabrakan kereta api di tikungan maut pada tahun 1994, penduduk setempat selama 3 hari berturut-turut melihat wanita cantik yang mereka percaya sebagai arwah dari putri Ningrumsari, duduk di tepi rel kereta api. Seorang masinis kereta api mengaku pernah melihat sosok wanita cantik itu duduk di tepi rel beberapa hari sebelum terjadinya kecelakaan. Sementara itu Aseli, Ketua RT 08/RW 05, Kelurahan Ratu Jaya Depok mengaku hanya sedikit mengetahui sejarah Ratu Jaya. ”Saya ini kelahiran tahun 1945, jadi tidak paham benar sejarahnya. Namun dari cerita orang tua, dulu itu ada Nyai yang mau ke kerajaan Banten dan selendangnya jatuh di daerah ini. Sehingga, masyarakat memanggil daerah ini dengan sebutan Ratu Jaya,”

Misteri Kolor Ijo Memperkosa Wanita

Cukup lama Kolor Ijo menghantui wanita-wanita yang tinggal di sekitar wilayah Probolinggo, Jawa Timur. Selama 10 tahun, sejak 2004 sepak terjang Kolor Ijo sudah banyak makan korban. Baik itu korban harta benda atau wanita yang telah diperdayanya. Adalah Buasir Nur Khotib, lelaki yang berhasil ditangkap polisi dan terbukti sebagai pelaku pemerkosaan yang dikenal dengan nama Kolor Ijo.

Perbuatan Kolor Ijo seperti tidak terendus jejaknya. Setiap kali mencuri dan merampok, lelaki ini selalu mengunakan penutup wajah berwarna gelap dan mengenakan celana kolor berwarna hijau. Karena itulah ia lalu mendapatkan julukan sebagai Kolor Ijo. Perbuatannya sempat membuat para wanita resah, sebab isu yang beredar bahkan menyebutkan jika Kolor Ijo ini bisa menghilang segala macam saat korban terendus keberadaannya.
Meski mengaku melakukan pekerjaan kotornya seorang diri, Nur Khotib yang tercatat sebagai warga Desa Pohsangit Lor, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini, dikenal piawai dan teliti dalam setiap aksinya. Sebelum menyatroni rumah korban, ia misalnya melakukan survei lapangan dengan berpura-pura mencari sesuatu atau menawarkan jasa shooting video atau mencari rumput karena ia punya peliharaan sapi.
Ia mengamati gerak-gerik penghuni rumah yang akan disatroni, ia memperhatikan tata letak pintu dan jendela yang akan dijadikan tempat masuk dan keluarnya. Ia juga memperhatikan dengan teliti jalan yang akan dilalui untuk melarikan diri seandainya perbuatan diketahui orang lain. Nur Khotib mengaku bahwa jika korbannya dekat, ia akan pergi ke lokasi dengan naik sepeda onthel. Namun, jika jauh ia akan menyewa jasa tukang ojek untuk mengantarkan ke lokasi dan meninggalkannya.
Dan, yang tak kalah penting adalah rumah yang akan disatroni harus ada penghuni perempuannya. Sebab, ini merupakan bagian terpenting dan selalu menjadi akhir pelampiasan nafsu bejatnya dalam setiap aksinya.
Ketelitian Kolor Ijo tak hanya itu. Bahkan, pada saat hari H beraksi pun, Kolor Ijo masih melakukan ritual dengan mengelilingi rumah korban sambil menebarkan sesuatu yang diduga sebagai media sirep agar penghuni rumah terlelap dalam tidurnya. Ini semacam aji-aji sirep yang memang fungsinya membuat seluruh penghuni rumah tertidur pulas meski rumahnya dimasuki dan diperok-perondakan untuk diambil barang-barangnya.
Namun, mungkin benar kata pepatah selama ini, bahwa sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terjatuh juga. Pada saat melakukan aksi untuk yang terakhir kalinya, usai mengambil barang-barang berharga dan membawa penghuni perempuan ke tengah persawahan, Kolor Ijo ini entah sengaja atau tidak, ia membuka penutup kepalanya sehingga korban mengenalinya.
Terakhir, pelaku beraksi pada Minggu dini hari (19/1/2014), tepatnya di sebuah kompleks perumahan di Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Dalam aksinya malam itu, Nur Khotib membuka penutup kepalanya sebelum membawa korban perempuan keluar rumah. Dengan demikian korban sempat melihat wajah pria yang memiliki tiga anak tersebut.
Berdasarkan keterangan korban, polisi kemudian menyusun sketsa wajah pelaku. Sebelumnya polisi sebenarnya telah mencurigai lima orang yang dicurigai sebagai pelaku. Dari proses pembuatan sketsa ini lantas diketahui jika mendekati wajah Nur Khotib yang ada dalam foto yang telah dikantongi polisi. Untuk semakin menyakinkan, polisi juga sempat menyamar menjadi salah seorang pasien
Setelah mencocokkan sidik jari yang menempel di botol air pemberian Buasir kepada anggota polisi tersebut, ternyata sidik jarinya cocok dengan yang ditemukan polisi dalam kasus pemerkosaan oleh Kolor Ijo beberapa waktu lalu. Selain itu, polisi melacak pelaku setelah ponsel milik korban ternyata masih aktif dan dipegang Buasir. Dari itulah polisi melakukan penangkapan terhadap lelaki ini.
Buasir Nur Khotib mengaku telah memerkosa dan merampok 31 perempuan mulai gadis hingga ibu-ibu. Hal itu dilakukannya selama rentang waktu 10 tahun. Penyitaan sejumlah jimat sebagai barang bukti (BB) dari rumah tersangka Nur Khotib, memperkuat dugaan bahwa pencurian yang disertai pemerkosaan yang dilakukan pelaku selama ini karena ia sedang mendalami jenis pesugihan tertentu yang mensyaratkan pelaku melakukan pemerkosaan terhadap beberapa wanita. Kemungkinan ia juga tengah menargetkan sejumlah wanita, yang bisa saja mencapai 41. Namun, baru sampai 31 wanita, Kolor Ijo sudah ditangkap polisi.
Sejumlah jimat yang disita, seperti keris, beberapa batu akik, kulit ular, dan sejumlah kertas yang bertuliskan arab, dan sebotol minyak wangi, menurut lelaki ini hanya sebagai koleksi. Itu katanya benda-benda peninggalan orangtuanya. Perihal  sejumlah wanita yang telah menjadi korbannya sebanyak 31 orang, baik yang masih gadis, ibu-ibu atau janda, Nur Khotib juga membantah itu berkaitan dengan ilmu pesugihan yang sedang dianutnya. Menurutnya ia melakukan perkosaan itu hanya tergoda saja. Ia juga mengaku tidak mempunyai guru spiritual yang memerintah atau mengajarkannya melakukan itu.
Perihal korban yang selalu dibopong ke sawah dan memperkosanya di sana, lelaki ini hanya menjawab enteng agar tidak diketahui orang. Sebab, ia takut dimassa orang kampung jika sampai perbuatannya terpergoki masyarakat. Dari data kepolisian, lelaki ini ternyata pernah dimassa penduduk akibat masuk ke dalam rumah salah seorang penduduk di sekitar tempat tinggalnya. Ia pun sempat mendekam dalam penjara akibat ulahnya itu, sebab itulah ia juga mendapatkan julukan di kampungnya sebagai Nur Maling.
Boleh-boleh saja Nur Khotib mengaku bahwa apa yang dilakukan, yakni mencuri sambil memperkosa perempuan tidak ada hubungannya dengan ilmu pesugihan. Tapi dugaan lelaki ini tengah mendalami jenis ilmu hitam atau pesugihan sangatlah kuat. Mulai pakaian yang dikenakan saat beraksi, aneka ajimat yang ditemukan di rumahnya, selalu membawa korban perempuan ke sawah sebelum diperkosa, dan jumlah yang sudah mencapai 31 perempuan, seolah memperkuat dugaan tersebut.  Dugaan membawa korban ke sawah juga bisa jadi sebagai upaya menyerap kekuatan gaib, bisa dari alam atau dari bulan purnama yang dipercaya punya energi positif jika sedang bersinar terang. 

Misteri Tersesatnya Pendaki Di Semeru

Siapa yang tidak tau Gunung Semeru. Gunung semeru merupakan tempat tertinggi di jawa yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi oleh para pendaki, baik pendaki amatir maupun yang sudah berpengalaman. Tidaklah heran, karena gunung dengan ketinggian 3676 mdpl ini menawarkan berbagai pemandangan eksotis di sepanjang jalur pendakian menuju puncaknya.
Selain keindahannya, banyak sekali cerita misteri gunung semeru dan salah satunya ada cerita tentang kawasan blank 75 yang sering menyebabkan para pendakit hilang (tersesat). Sebenarnya kawasan misteri blank 75 itu di mulai dari camp kalimati sampai ke cemara tunggal (tapi sekarang sudah tidak ada) dan ini merupakan jalur menuju puncak mahameru yang pasti dilewati oleh para pendaki, baik ketika naik atau turun.
Misteri penyebab yang menjadikan pendaki tersesat di blank 75 ini adalah ketika pendaki mulai turun dari puncak mahameru. Jalur akan terbagi dua cabang, ke kanan dan ke kiri. Pada arah yang ke kanan pendaki akan menemukan jalur yang lumayan landai dan tentunya nyaman untuk dilewati. Dan ini yang sering memakan korban orang tersesat karena di sebelah kanan kirinya merupakan jurang dengan kedalaman diatas 15 meter. Sedangkan pada arah yang ke kiri pendaki akan melewati jalur yang sempit dan cukup terjal, tapi ini merupakan jalur yang benar untuk menuju pos kalimati.
Setelah sampai di daerah kelik (batas vegetasi) juga banyak jalur menipu yang sering menyesatkan para pendaki gunung semeru. Misteri pendaki hilang juga banyak terjadi di daerah vegetasi ini terlebih ketika cuaca berkabut dan badai maka resiko tersesat akan lebih besar.misteri tersesatnya pendaki di gunung semeru
Banyak sekali mitos-mitos dan cerita misteri di balik keindahan gunung semeru yang berkembang di kalangan para pendaki. Setidaknya ada 4 kisah misteri di gunung semeru, yaitu:

1. Misteri patung kembar (Arcopodo)

Sebenarnya arcopodo merupakan dataran luas dan merupakan pos pendakian terakhir untuk menuju puncak gunung semeru. Di kawasan ini di kelilingi oleh hutan belantara dan menyimpan misteri tentang adanya arca kembar yang konon katanya di buat oleh petinggi kerajaan Majapahit. Anehnya, persepsi wujud dari arca kembar ini tidak sama antara pendapat yang satu dan pendapat yang lain. Ada yang mengatakan sebesar anak kecil, bahkan ada yang mengatakan sebesar raksasa. Dan yang pasti tidak sembarang orang bisa melihat wujud arca kembar ini.

2. Misteri tanjakan cinta

Tanjakan cinta adalah jalur yang lumayan cukup terjal dan terletak diantara danau ranu kumbolo dan oro-oro ombo. Menurut cerita, pendaki jomblo yang bisa mendaki tanjakan cinta ini tanpa menoleh dan tidak berhenti beristirahat sedikitpun dari bawah sampai batas akhir puncak akan kesampaian cintanya pada sang kekasih yang didamba.

3. Misteri penunggu gunung semeru (Mbah Dipo)

Mbah Dipo adalah juru kunci gunung semeru dan tinggal di kawasan berbahaya di lereng semeru. Banyak masyarakat desa Ranupane yang mengatakan bahwa Mbah Dipo dapat merasakan tanda-tanda akan meletusnya gunung semeru. Dulu sebelum meninggal, beliau pernah berwasiat: “Jangan pernah lari ke arah desa gunung Sawur, tapi larilah ke arah sungai”. Sampai saat ini wasiat tersebut masih menjadi misteri.

4. Misteri sosok wanita dan ikan mas di ranu kumbolo

Para masyarakat meyakini bahwa sosok wanita dan ikan mas di ranu kumbolo ini merupakan penunggu danau yang merupakan jelmaan dari dewi. Dan biasanya sosok wanita dan ikan mas ini muncul ketika bulan purnama.
Itulah sedikit pembahasan mengenai cerita misteri gunung semeru yang sering menjadikan pendaki tersesat. Apakah anda percaya tentang kisah misteri yang ada di balik gunung semeru tersebut? Entah percaya atau tidak, itu semua kembali kepada diri Anda masing-masing.

Misteri Batu Raksasa Di Tol Cipali

Sebuah tanjakan diikuti tikungan ke kiri mengakhiri jalanan lurus sepanjang sekitar 90 km dari pintu tol Cikopo, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Tanjakan itu diapit tebing sepanjang kurang lebih 300 meter.
Pada tebing sisi selatan, bertengger sebuah batu raksasa. Mayoritas warga setempat menganggap batu tersebut keramat dan tak bisa diutak-atik. Hal itu pula yang menyebabkan konstruksi jalan tol di wilayah tersebut dibuat berbelok-belok, mirip aksara S.
"Gunung yang tinggi bisa dibelah untuk jalan tol, tapi batu itu tidak bisa," ujar Romli (55), warga di pinggir Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Kamis (25/6).
Di Jalan Tol Cipali, bentuk jalan yang menikung dan membelah bukit hanya ada di Km 181-182. Lokasi tersebut masuk wilayah Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Secara turun temurun, warga Walahar menyebut bukit itu sebagai Gunung Salam. Sedangkan batu yang bertengger di punggung bukit dinamai Batu Bleneng.
Romli yang tinggal di kaki Gunung Salam percaya, Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib sehingga batu seukuran bus kota itu tidak bisa dipindahkan maupun dihancurkan.
Menurut Romli, lantaran Batu Bleneng bergeming, konstruksi jalan diubah, dari lurus 180 derajat menjadi letter S.
Romli mengatakan pekerja proyek jalan tol telah mencoba memindahkan dan menghancurkan Batu Bleneng menggunakan alat-alat berat.
Namun upaya tersebut selalu gagal. Kabarnya, setiap kali pekerja hendak memindahkan batu, maka terjadi insiden atau kecelakaan kerja.
Ketika menelusuri jalan setapak di punggung Gunung Salam, Penulis mendapati sekitar 10 makam di dekat Batu Bleneng.
Selain itu juga terdapat sebuah saung atau gubuk yang menempel pada Batu Bleneng. Namun saung tersebut tidak terlihat dari jalan tol karena tersembunyi di balik batu.
Bagi pelintas Jalan Tol Cipali dari Cirebon ke Jakarta, Batu Bleneng terdapat di sisi kiri sedangkan pelintas dari Jakarta, batu itu ada di sisi kanan.
Akibat pemotongan Gunung Salam, Batu Bleneng kini berada di bibir tebing sisi selatan. Terkesan bahwa area terluar pemotongan kurang dari 10 meter dari Batu Bleneng.
Pemotongan Gunung Salam menciptakan tebing yang mengapit jalan tol. Kedua tebing itu telah disemen sehingga menutup kemungkinan guguran batu dan tanah ke badan jalan. Panjang masing-masing tebing sekitar 300 meter sedangkan puncak tebing tingginya sekitar 40 meter.
Haryanto, warga Walahar, tak percaya Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib. Menurutnya, Batu Bleneng adalah batu gunung biasa yang kebetulan berukuran sangat besar. Secara kebetulan pula, batu itu terletak di dekat sekumpulan makam.
"Kalau saya tidak percaya, itu hanya kebetulan saja," katanya. Tentang alasan jalan tol di kawasan itu berbentuk letter S, Haryanto mengatakan bahwa hal itu terjadi karena tidak adanya kesepakatan harga antara pemilik lahan dan panitia pembebasan tanah.
Saat yang sama, pemilik lahan di lokasi alternatif bersedia menerima harga yang ditawarkan panitia pembebasan lahan. Maka konstruksi jalan pun berbelok mengikuti letak lahan yang bisa dibebaskan.
Namun penjelasan Romli maupun Haryanto belum bisa dikonfirmasikan ke pihak-pihak yang terlibat pembebasan tanah dan pembangunan Jalan Tol Cipali di wilayah Walahar.
Kecelakaan
Jalan Tol Cipali yang diresmikan Presiden Joko Widodo 13 Juni lalu, bakal mengubah pola arus mudik dari Sumatera dan bagian barat Jawa ke Jawa bagian tengah maupun timur.
Pemudik tahun ini diperkirakan bakal meninggalkan jalur pantai utara (pantura) yang pada tahun-tahun lalu didera kemacetan hingga belasan jam.
Sejumlah pengendara telah membuktikan, perjalanan Jakarta Cirebon lewat Jalan Tol Cipali hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.
Sementara bila lewat pantura, Jakarta-Cirebon harus ditempuh dalam tempo sekitar 5-6 jam. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Djoko Sasono memperkirakan, jalan tol sepanjang 116,7 km tersebut dapat menurunkan beban kendaraan di jalur pantura sekitar 40 persen.
Kritik keras atas pengoperasian Jalan Tol Cipali adalah tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Polda Jawa Barat mencatat, sejak diresmikan Jokowi hingga 23 Juni, atau selama 10 hari, terjadi 30 kecelakaan di Jalan Tol Cipali. Sebagian di antaranya menelan korban jiwa.
Menurut Kapolda Jabar Irjen Moechgiyarto, salah satu titik rawan kecelakaan adalah Km 94. Mayoritas kendaraan yang mengalami kecelakaan adalah kendaraan yang mengarah ke Cikampek.
Dilihat dari jenisnya, kecelakaan yang kerap terjadi di Cipali adalah tabrak belakang dan kecelakaan tunggal. Penyebab kecelakaan tunggal di antaranya adalah mengantuk dan menghindari hewan yang menyeberang di Jalan Tol Cipali.

Kami mohon share, dan like jika anda menyukai ulasan kami, bila ada yang ingin anda tanyakan silahkan tinggalkan pesan di menu komentar.
Terima Kasih.